Suatu hari dikerajaan Singasari datanglah seorang utusan Kubilai Khan dari kekaisaran Mongol untuk meminta upeti. Tetapi Raja Kertanegara menolaknya dan mempermalukannya.
Raja Kertanegara : “ Heh, buat apa aku memberimu upeti lebih baik aku gunakan untuk mensejahterakan rakyatku.”
Utusan : “ Baiklah bila begitu, Yang Mulia, hamba akan sampaikan kepada kaisar bahwa Yang Mulia tidak ingin memberikan upeti yang diminta.”
Raja Kertanegara : “ Bilang saja sana! Aku tidak takut!!”(Bentak Raja)
Setelah itu utusanpun pulang kekaisaran dengan tangan hampa, masalah lainpun timbul dari dalam negeri, Jayakatwang memberontak terhadap Singasari. Raja Kertanegrapun meninggal dalam pertempuran itu. Raden Wijaya dan Arya Wijaya melarikan diri dari Singasari.
Arya Wiraja : “ Ayo, raden Wijaya kita kabur saja!”
Raden Wijaya : “ Tapi bagaimana dengan pertempuran ini?”
Arya Wiraja : “ Sudahlah, yang penting kita melarikan diri dahulu kalau urusan
Jayakatwang, berpura-puralah tunduk padanya saja, Raden.”
Raden Wijaya : “ Apakah berhasil?”
Arya Wiraja : “ Tentu! Setelah itu mintalah daerah untuk tempat berdiam pada
Jayakatwang. Aku yakin, pasti berhasil.”
Raden Wijaya : “ Baiklah, aku akan mencoba.”
Keesokan harinya Raden Wijaya menghadap kepada Jayakatwang.
Raden Wijaya : “ Jayakatwang, aku menyarah diri padamu, aku mengaku takluk
kepadamu.”
Jayakatwang : “ Ha,,ha,,ha,,akhirnya kau takluk juga padaku…”
Raden Wijaya : “ Terserahlah kau bilang apa tentang aku… yang penting aku tunduk padamu…”
Jayakatwang : “ Hahahaha, baik-baik. Takluk juga kau ditanganku.”
Raden Wijaya : “ Iya, karena aku sudah takluk padamu boleh aku minta sesuatu
kepadamu.”
Jayakatwang : “ Minta apa? Kau boleh minta apa saja dariku.”
Raden Wijaya : “ Aku minta sebuah daerah yang akan kugunakan sebagai tempat
tinggal.”
Jayakatwang : “ Baiklah. Ambilah daerah Hutan tarik itu!”
Raden Wijaya : “ Baiklah, terima kasih atas kebaikanmu.”
Raden Wijayapun pergi kehutan tarik dimana ia akan menjadikan lahan tersebut sebagai tempat layak tinggal. Dibantu oleh sisa pasuka dari Madura. Karena ada tentara yang kehausan maka mencoba memakan buah maja dan ternyata pahit, akhirnya daerah tersebut dinamakan Majapahit.
Suatu hari Raden Wijaya menyerang kerajaan Singasari dengan bantuan tentara Mongol yang ingin balas dendam atas perilakau Raja Kertanegera.
Raden Wijaya :” Hai, Jayakatwang, habislah nasibmu saat ini!”
Jayakatwang : “ Apa?! Beginikah kau menunjukkan rasa terimakasihmu kepadaku?
Dengan bertempur?”
Raden Wijaya : “ Benar! Dan tamatlah riwayatmu Jayakatwang!”
Jayakatwang : “ WIJAYA!!!!!!Biadap kau!!!!”
Terjadilah perang antara Jayakatwang dan Raden Wijaya yang dimenangkan oleh Raden Wijaya. Dan menyerang PAsukan Mongol yang akhirnya meninggalkan Pulau Jawa. Kemudian berdirilah kerajaan Majapahit yang diperintah oleh Raden Wijaya.
No Nama Kerajaan Tahun
1. Majapahit 1293 M
Peninggalan
1. Prasasti Bulak
2. Kitab Sutasoma
3. Kitab Negarakertagama
4. Kitab Pararaton
5. Berita Cina
6. Kidung Harsawijaya dan Kidung Wijayakarma
7. Kidung Sundalaya
8. Candi Penataran
9. Candi Tegalwangi
10. Candi Tikus
11. Candi Jabung
12. Candi Brahu
13. Candi Bajang Batu
Corak : Hindu
Bidang pemerintahan : Kerajaan Majapahit dibangun oleh Raden Wijaya dan berkembang pesat ditangan Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada yang berhasil menaklukkan kerajaan Negara-negara tetangga. Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran saat dipegang oleh Wirakrama Wardhana.
1. ASPEK SOSIAL :
Pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat (strata) yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit terdapat empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna, tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana.1 Pola ini dibedakan atas empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Namun terdapat pula golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu Candala, Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit.2
Brahmana (kaum pendeta) mempunyai kewajiban menjalankan enam dharma, yaitu mengajar, belajar, melakukan persajian untuk diri sendiri dan orang lain, membagi dan menerima derma (sedekah) untuk mencapai kesempurnaan hidup dan bersatu dengan Brahman (Tuhan).3 Mereka juga mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan, yang berada pada bidang keagamaan dan dikepalai oleh dua orang pendeta tinggi, yaitu pendeta dari agama Siwa dan agama Buddha, yang disebut sebagai Saiwadharmadhyaksa dan Buddhadarmadyaksa. Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan) dan tempat pemukiman empu (kalagyan); Buddhadyaksamengepalai tempat sembahyang (kuti) dan bihara (wihara); manteri berhajimengepalai para ulama (karesyan) dan para pertapa (tapaswi). Semua rohaniawan menghambakan hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji.
Para rohaniawan biasanya tinggal di sekitar bangunan agama, yaitu mandala,dharma, sima, wihara, dsb. Mandala adalah nama komunitas agama di desa, yang ditempatkan di daerah yang terpencil di bukit yang berhutan, sedangkan Sima adalah daerah yang menjadi milik kaum agama dari berbagai sekte, tidak langsung di bawah kekuasaan pejabat istana manapun.
Kaum Ksatria merupakan keturunan dari pewaris tahta (raja) kerajaan terdahulu, yang mempunyai tugas memerintah tampuk pemerintahan. Keluarga raja dapat dikatakan merupakan keturunan dari kerajaan Singasari-Majapahit yang dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan keluarga-keluarga kerabat raja tersebar ke seluruh pelosok negeri, karena mereka melakukan sistem poligami secara meluas yang disebut sebagai wargahaji atau sakaparek. Para bangsawan yang memerintah suatu kawasan permukiman di ruang lingkup kekuasaan kerajaan dapat dikatakan memiliki hubungan dengan keluarga raja terdahulu dan disebut sebagai parawangsya. Semua anggota keluarga raja masing-masing diberi nama atas gelar, umur, dan fungsi mereka di dalam masyarakat. Bila seseorang diangkat menjadi bangsawan, maka nama pengangkatan akan diberikan kepadanya. Pemberian nama pribadi dan nama gelar terhadap para putri dan putra raja didasarkan atas nama daerah kerajaan yang akan mereka kuasai sebagai wakil raja. Hak istimewa yang diterima oleh para bangsawan kerajaan bersumber pada penghasilan dari propinsi mereka dan terutama pada penghasilan wilayah yang menjadi hak mereka sendiri.
Waisya merupakan masyarakat yang menekuni bidang pertanian dan perdagangan. Mereka bekerja sebagai pedagang, peminjam uang, penggara sawah dan beternak. Kemudian kasta yang paling rendah dalam catur warna adalah kaumsudra yang mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada kasta yang lebih tinggi, terutama pada golongan brahmana.
Golongan terbawah yang tidak termasuk dalam catur warna dan sering disebut sebagai pancama (warna kelima) adalah kaum candala, mleccha, dan tuccha. Candalamerupakan anak dari perkawinan campuran antara laki-laki (golongan sudra) dengan wanita (dari ketiga golongan lainnya: brahmana, waisya, dan waisya), sehingga sang anak mempunyai status yang lebih rendah dari ayahnya. Mleccha adalah semua bangsa di luar Arya tanpa memandang bahasa dan warna kulit, yaitu para pedagang-pedagang asing (Cina, India, Champa, Siam, dll.) yang tidak menganut agama Hindu.Tuccha ialah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya adalah para penjahat. Ketika mereka diketahui melakukan tatayi, maka raja dapat menjatuhi hukuman mati kepada pelakunya. Perbuatan tatayi adalah membakar rumah orang, meracuni sesama, mananung, mengamuk, merusak dan memfitnah kehormatan perempuan.4
Dari aspek kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Majapahit, mereka mempunyai status yang lebih rendah dari para lelaki. Hal ini terlihat pada kewajiban mereka untuk melayani dan menyenangkan hati para suami mereka saja. Wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun, selain mengurusi dapur rumah tangga mereka. Dalam undang-undang Majapahit pun para wanita yang sudah menikah tidak boleh bercakap-cakap dengan lelaki lain, dan sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk menghindari pergaulan bebas antara kaum pria dan wanita.
2. Aspek Ekonomi :
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri utk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yg menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.
Menurut catatan Wang Ta-yuan pedagang Tiongkok komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada garam kain dan burung kakak tua sedangkan komoditas impor adl mutiara emas perak sutra barang keramik dan barang dari besi. Mata uang dibuat dari campuran perak timah putih timah hitam dan tembaga. Selain itu catatan Odorico da Pordenone biarawan Katolik Roma dari Italia yg mengunjungi Jawa pada tahun 1321 menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dgn perhiasan emas perak dan permata.
3. Aspek Budaya :
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dgn perayaan besar keagamaan yg diselenggarakan tiap tahun. Agama Buddha Siwa dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha Siwa maupun Wisnu.
Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelum arsitek Majapahitlah yg paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dgn memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yg masih dapat ditemui sekarang adl Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan Mojokerto.
4. Aspek politik:
Dalam rangka menguasai Pajajaran, maka Gajah Mada melakukan Politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Babat tahun 1357.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal. Sehingga Majapahit mengalami kesulitan mencari penggantinya. Baru tiga tahun kemudian digantikan oleh Gajah Enggon. Meninggalnya Gajah Mada sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Hayam Wuruk, sehingga pemerintahan Hayam Wuruk mengalami kemunduran. Hayam Wuruk meninggal tahun 1389. Selanjutnya tahta Majapahit diduduki oleh Wikramawardhana. Pada masa pemerintahan Wikramawardhana (tahun 1389 - 1429) kehidupan politik Majapahit diwarnai oleh Perang Paregreg atau perang saudara antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi.
Perang Paregreg terus berkelanjutan menyebabkan bintang Majapahit semakin pudar, sehingga banyak daerah-daeah kekuasaannya yang melepaskan diri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar