Aku mendribel bola basket sampai kering dengan satu kali lompatan yang indah.
“Wow, tembakan yang jitu tuh!” Sahut Risia dibelakangku. Aku menoleh kebelakang dan tampak Risia dibelakang dan tersenyum manis kepadaku. Kubalas senyum manis itu dengan sebentuk senyum.
“Tumben baru datang biasanya udah mendribel beberapa bola basket ke ring.” Ucapku sambil meleparkan bola basket kepada Risia.
Risia menangkap nola basket itu “Iya,nih. Sorry, ya, Vi. Hari ini aku mau berangkat ke Surabaya, ayah dipindah tugaskan kesana.” Ujarnya lirih.
“Hah?! Maksud kamu, kamu mau pindah ke Surabaya, gitu?”
Risia mengangkat bahunya “ Kurasa begitu. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, Vi. Kalo aku punya salah maafkan aku, ya?” Risia melemparkan bola basket itu kepadaku lagi dan berlalu pergi.
“Risia !!!” Panggilku. Risia membalikkan bada menghadapku” Aku tunggu kedatanganmu kembali disini!” Teriakku, Risia hanya menyunggingkan senyum manisnya yang akan kuingat selalu.
Lima tahun telah berlalu sejak Risia pamit pergi. Kini aku telah kuliah disalahsatu universitas dikotaku. Angan tentang kedatngan Risia masih membayangiku. Ingin rasanya bisa bermain basket lagi bersamanya dan melihatnya memamerkan senyum manisnya.
Hari ini aku pulang kuliah agak cepat karena dosenku sedang keluar kota. Aku menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar.
“Vian!!” Panggil seseorang. Aku sejenak berhenti melangkah dan menoleh kebelakang karena merasa namaku dipanggil sesorang dan ternyata orang itu adalah Randy, sahabatku.
“ Hai, bro!!. mau kemana nih?” Tanyanya.
“ Gak tau, deh. Rencanya sih mau ke mall cari buku buat bahan skripsi.” Paparku sambil melangkah menuri tangga bersama Randy.
“ Yah, rajinnye, nih nak!!” Ejek Randy.
“ Hmeb, yelah. Kamu mau gak lulus kuliah gara-gara nggak ngumpulin skripsi?”
“ Ya, enggak lah, Vi! Gini-gini aku pingin jadi anak yang berbakti bagi bangsa dan Negara.” Randy menjawab sambil menepuk-nepuk dadanya.
“ Gayamu, Ran,Ran! Kyak yang udah sukses aja!” Ledekku.
“ Hey, iya donk! Aku kan udah sukses lulus SMA! Wekkkk!!!” Randy menulurkan lidahnya, sejenak aku tertawa bersama Randy mendnegar lelucon dari Randy tadi. Nggak kerasa aku dan Randy udah nyampek parkiran kampus.
“ Eh, Ran kamu nggak ikut ke mall bareng aku?” Tanyaku.
“ Nggak, ah, Vi. Mending aku jalan-jalan bareng Sita.”
“ Ye, Sita aja yang dipikiri! Pikiri tuh, kuliahmu!” Omelku “ bener, nih, nggak mau ikut? Mumpung aku bawa mobil, nih.”
“ Nggak, lah, Vi. Makasih banget ,deh! Sorry, ya.”
“ Iya, deh! ya, udah aku duluan ya!” Salamku.
“ Yok! Entar kalo nyasar miscall gue ya!” Pesan Randy.
Aku melajukan mobil kijangku keluar dari halaman kampus. Menuju ke jalan raya. Selama dimobil aku menyetel lagunya Vierra Seandainya yang pas banget buat aku dengerin sambil mengenang perpisahku dengan Risia. Tak terasa mobil sedanku telah sampek diparkiran mall. Setelah memarkir mobilku aku mengunci mobilku. Tiba-tiba ada seorang gadis lewat yang sepertinya kukenal baik, gadis itu tak lain adalah Risia!
“ Risia!!” Teriakku. Sang gadis yang kupanggil itupun menoleh. Ternyata benar itu adalah Risia yang hendak mengambil mobilnya yang tak jauh dari mobilku.
“ Vian?!” Serunya. Aku segera menghampiri Risia.
“ Hai, apa kabar lama tak jumpa!” Ujarku. Risia tersenyum, hmen, senyum yang selama ini kurindukan.
“ Baik, kamu sendiri? Wah, kelihatannya kamu tambah tinggi ya Vi!” Seru Risia.
“ Hehehehe,,,,,ya gitu,deh. aku baik kok. Kamu ngapain disini?”
“ Aku habis belanja buat makan entar malem,kamu juga ngapain disini?”
“ Mau nyari bahan buat skripsi, oh ya kamu kok udah balik dari Surabaya?”
Risia tersenyum “ Iya, jenguk tante yang lagi sakit sama mau kuliah disini kangen sama kampung halaman, hehehehehe,,,,,oh ya Vi aku pulang dulu ya udah ditunggu tante dari tadi, nih.”
“ Owh, ya deh. Oh, ya ris boleh minta nomor hpmu nggak?” tanyaku takut-takut.
“ Boleh aja catet ya!” Risia lalu mengeluarkan handphonenya. Setelah bertukar nomor handphone Risia lalu pergi bersama mobilnya. Ah, senang rasanya bisa bertemu lagi dengannya.
Setelah kejadin sore itu aku rajin sms’an dengan Risia. Ia ternyata kuliah di universitas kedokteran dikotaku. Dia memang sudah lama ingin menjadi dokter. Risia juga sering bermain basket lagi bersamaku. Entah mengapa sejak kehadiran Risia hatiku berdebar-debar dibuatnya. Karena telah lama memendam rasa ini rencananya aku akan mengungkapkannya.
Suatu petang dicafe yang terletak dalam sebuah mall, ditemani secangkir cappuccino dan piring kecil berisi dua potong brownies, aku membaca buku panduan cara berternak burung puyuh. Aku percaya, jika bisa disiasati dan dinikmati, menugggu tidaklah membosankan.
Tiga bulan yang lalu di basement mall ini, aku bertemu risia. Dia melintas ketika kau baru selesai memarkir mobil. Antara ragu dan rindu, kuseru namanya. Dia menunda langkah dan menengok. Satu kebetulan yang indah. Sedannnya parkir tak jauh dari kijangku. Setelah basa-basi sebentar dan saling member nomor ponsel, dia pamit pulang. Ada yang mekar diam-diam dalam hati saat melepasnya pergi.
Kejadian itu akan kuingat selalu. Cinta pertamaku adalah Risia. Dan sore ini aku akan menyatakannya.
“ Hai, Vi! Serius amat bacanya.” Sapa Risia yang membuat perhatianku beralih padanya.
“ Hai, juga Ris, duduklah.” Pintaku. Risiapun duduk didepanku.
“ Ada apa kamu memintaku kemari, Vi?” Tanya Risia.
“ Hmn, ada yang perlu aku bicarakan.” Kataku ragu. “ Dan kurasa penting.”
“ Oh,ya?Apa?langsung aja,deh bilangnnya gak usah pake basa-basi.” Kata Risia antusias.
“ Aku suka kamu, Ris.” Kataku.
“ Hah?! Kamu suka aku?” Tanya Risia, kaget.
“ Iya, aku suka kamu dari dulu.” Kataku. Kulihat Risia tersenyum, Lho?
“ Aku juga, suka sama kamu, Vi, tapi sebagai sahabat. Kamu adalah sahabat yang paling aku sayangi, tapi maaf aku nggak bisa lebih dari itu?” Ungkapnya.
“ Kenapa?” Sebuah pertenyaan aneh itu keluar dari mulutku.
“ Aku juga nggak tahu kenapa tapi mungkin itu udah tadir dari Tuhan.” Jelasnya “ Lagian, sahabat lebih nyaman daripada pacaran, aku masih sibuk mengurus kuliahku, kamu juga, toh sahabat ataupun pacar tak membedakan status kita.” Risia tersenyum. Aku hanya membalas senyumannya.
“ Hmen, kurasa kamu ada benarnya, Ris. Sebaiknya kita berteman saja, aku nggak mau ngerusak persahabatan lama kita ini.”
“ Siiip!!!” Risia mengcungkan jempol padaku.
Mulai saat ini sampai kapanpun Risia adalah sahabatku tersayang, persahabatan kami nggak boleh hancur gara-gara rasa suka ini. Toh, pacar ataupun bukan Risia tetap selalu ada disaat aku duka maupun suka, hingga akhir hayat kami.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar