Kamis, 17 Juni 2010

KUTAI

Pada abad IV berdirilah kerajaan bercorak Hindu-Budha yaitu Kerajaan Kutai Mulawarman yang berdiri di Martapura, Muara Kaman, yang didirikan oleh Kudungga. Sementara pada Abad XIII di MUara Sungai Mahakam berdiri kerajaan bercorak Hindu-Jawa yaitu Kerajaan Kutai Kertanegara. yang didirikan oleh Raden Kusuma. Lalu diadakan proses asimilasi antara kedua kerajaan tersebut pada abad XIII dengan kawin politik antara Aji Batara Agung Paduka Nira dan Putri Indra Perwati Dewi puteridari Guna Perana Tungga. Datanglah Aji Batara Agung Paduka Nira melamar Putri Indra Perwati Dewi di kerajaan Kutai Mulawarman Dengan menggunakan kuda ndan membawa beberapa perwakilan dari kerajaan Kutai Kertanegara


Perwakilan Kerajaan : “ Kedatangan Kami disini tidak bermaksud jahat “
Penjaga Kerajaan : “ lalu apa maksud Kalian Datang kerajaan Kami ?”
Perwakilan Kerajaan :” Kami hanya ingin Melamar Putri Indra Perwati Dewi “
Penjaga Kerajaan : “ Baiklah jika benar itu maksud kedatangan kalian , maka
Kupersilahkan Masuk”
Perwakilan Kerajaan : “ Terimakasih…”

Penjaga Kerajaan Segara Melapor Kepada Raja lalu mempersilahkan Aji Batara Agung Paduka Nira dan beberapa Perwakilan Keluarga Kerajaan .
Penjaga Kerajaan : (bersujud) “ Ampun Raja , Hamba ingin memberitakan Bahwa
Aji Batara Paduka Nira yang berasal Dari Kerajaan Kutai Kertanegara datang Ingin Melamar Putri
Indra Perwati Dewi “
Raja Mulawarman : ” Apakah Benar Begitu ?”
Penjaga Kerajaan : “ Benar Paduka…! Hamba tidak Bohong…! Di luar ada
Rombongan Aji Batara Agung Paduka Nira Dan Perwakilan
Keluarga Kerajaan Siap melamar Putri.. Paduka…!
Para Mulawarman : “ Baiklah Persilahkan Masuk..!
Penjaga Kerajaan : (Tunduk pada Raja Dan Keluar) “Baik Paduka…”

Lalu Rombongan Raden Kusuma pun Masuk Di Kerajaan Kutai Mulawarman .
Raden Kusuma : “Salam Raja Mulawarman Kedatangan Saya Disini Untuk
Melamar Putri Indra Perwati Dewi “

Raja Mulawarman : “ Salam Kembali Raden Kusuma , Kupersilahkan Kau Melamar
Dinastiku ,Putri Indra Perwati Dewi “

Prosesi Pelamaran Raden Kusuma Kepada Putri Indra Perwati Dewi Pun berlangsung lancar , Bahkan Putri pun menerima Lamaran Raden Kusuma . Lalu
Mereka Berdua Menikah , Tetapi Perkawina Raden Kusuma dan Putri Indra Perwati Dewi tidak Berhasil Menyatukan Kedua Kerajaan Tersebut .Baru pada abad XVI melalui perang besar antara kerajaan Kutai Kertanegara pada masa pemerintahan Aji Pangeran Sinum Panji Ing Mendapa dengan Kerajaan Kutai Mulawarman (Martadipura) pada masa pemerintahan Raja Darma Setia.

Aji Pangeran Sinum Panji :”percuma kau Darma Setia….!! Kerajaan ini akan Bersatu Di tanganku…”
Raja Darma Setia : “ terserah kau Sinum Panji…. Kerajaan ini tak
Akan bersatu ditanganmu….”
Aji Pangeran Sinum Panji :” ah… Banyak Omong… Chiat…!”

Perang punTerjadi….!

Dalam pertempuran tersebut Raja Darma Setia mengalami kekalahan dan gugur di tangan Raja Kutai Kertanegara Aji Pangeran Sinum Panji, yang kemudian berhasil menyatukan kedua kerajaan Kutai Tersebut sehingga wilayahnya menjadi sangat luas dan nama kerajaannyapun berubah menjadi Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura.


No Nama Kerajaan Tahun
1. Kutai 500 M

Peninggalan :
1. Prasasti Bulak
2. Kitab Sutasoma
3. Kitab Negarakertagama
4. Kitab Pararaton
5. Berita Cina
6. Kidung Harsawijaya dan Kidung Wijayakarma
7. Kidung Sundalaya
8. Candi Penataran
9. Candi Tegalwangi
10. Candi Tikus
11. Candi Jabung
12. Candi Brahu
13. Candi Bajang Batu

Corak : Hindu

Bidang pemerintahan : Kerajaan Majapahit dibangun oleh Raden Wijaya dan berkembang pesat ditangan Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada yang berhasil menaklukkan kerajaan Negara-negara tetangga. Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran saat dipegang oleh Wirakrama Wardhana.

1. Aspek Geografis :
Berdasarkan sumber-sumber berita yang berhasil ditemukan menunjukkan bahwa kerajaan Kutai terletak di Kalimantan Timur, yaitu di hulu sungai Mahakam. Nama kerajaan ini disesuaikan dengan nama daerah tempat penemuan prasati, yaitu di daerah Kutai.
Sumber menyatakan bahawa di Kalimantan Timur telah berdiri dan berkembang kerajaan yang mendapat pengaruh Hindu (India) adalah beberapa dari penemuan peninggalan berupa tulisan (prasasti). Tulisan itu berhasil ditemukan terdapat pada tujuh buah tiang batu yang disebut dengan nama Yupa. Tulisan yang terbuat pada Yupa itu mempergunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta.

2. Aspek Politik
Raja-raja yang berhasil diketahui pernah memerintah kerajaan Kutai adalah sebagai berikut.
• Raja Kudungga, merupakan raja pertama yang berkuasa di kerajaan Kutai. Kedudukan Raja Kudungga pada awalnya adalah seorang kepala suku. Dengan masuknya pengaruh Hindu, ia mengubah struktur pemerintahannya menjadi kerajaan dan menganggap dirinya menjadi raja, sehingga pergantian raja dilakukan secara turun temurun.
• Raja Aswawarman, prasasti Yupa menyatakan bahwa Raja Aswawarman merupakan seorang raja yang cakap dan kuat. Pada masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Kutai diperluas lagi. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan upacara Aswamedha. Upacara-upacara ini pernah dilaksanakan di India pada masa pemerintahan Raja Samudragupta, ketika ingin memperluas wilayahnya.
• Raja Mulawarman, adalah putra dari Raja Aswawarman. Ia adalah raja terbesar dari kerajaan Kutai. Di bawah pemerintahannya kerajaan Kutai mengalami masa yang gemilang. Rakyat hidup tentram dan sejahtera. Dengan keadaan seperti itulah akhirnya raja Mulawarman mengadakan upaca kurban emas yang amat banyak.

3. Aspek Sosial :
Berdasarkan isi prasasti-prasasti Kutai dapat diketahui bahwa pada abad ke-4 M di daerah Kutai terdapat suatu masyarakat Indonesia yang telah banyak menerima pengaruh Hindu. Masyarakat tersebut telah dapat mendirikan suatu kerajaan yang teratur rapi menurut pola pemerintahan di India. Masyarakat Indonesia menerima unsur-unsur yang datang dari luar (India) dan mengembangkannya sesuai dengan tradisi bangsa Indonesia sendiri.

4. Aspek Ekonomi :
Dilihat dari letaknya, Kutai sangat strategis, terletak pada jalur aktifitas pelayaran dan perdagangan antara dunia barat dan dunia timur. Secara langsung maupun tidak langsung besar pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat Kutai, terutama dalam bidang perekonomian masyarakatnya, dimana perdagangan juga dijadikan mata pencaharian utama saat itu.

5. Kehidupan Budaya
Salah satu yupa menyebutkan suatu tempat suci dengan kata Vaprakecvara, yang artinya sebuah lapangan luas tempat pemujaan. Vaprakecvara itu dihubungkan dengan Dewa Siwa. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa masyarakat Kuta memeluk agama Siwa. Hal ini didukung oleh beberapa faktor berikut.
• Besarnya pengaruh kerajaan Pallawa yang beragama Siwa menyebabkan agama Siwa terkenal di Kutai.
• Pentingnya peranan para Brahmana di Kutai menunjukkan besarnya pengaruh Brahmana dalam agama Siwa terutama mengenai upacara korban.

MAJAPAHIT

Suatu hari dikerajaan Singasari datanglah seorang utusan Kubilai Khan dari kekaisaran Mongol untuk meminta upeti. Tetapi Raja Kertanegara menolaknya dan mempermalukannya.
Raja Kertanegara : “ Heh, buat apa aku memberimu upeti lebih baik aku gunakan untuk mensejahterakan rakyatku.”
Utusan : “ Baiklah bila begitu, Yang Mulia, hamba akan sampaikan kepada kaisar bahwa Yang Mulia tidak ingin memberikan upeti yang diminta.”
Raja Kertanegara : “ Bilang saja sana! Aku tidak takut!!”(Bentak Raja)
Setelah itu utusanpun pulang kekaisaran dengan tangan hampa, masalah lainpun timbul dari dalam negeri, Jayakatwang memberontak terhadap Singasari. Raja Kertanegrapun meninggal dalam pertempuran itu. Raden Wijaya dan Arya Wijaya melarikan diri dari Singasari.
Arya Wiraja : “ Ayo, raden Wijaya kita kabur saja!”
Raden Wijaya : “ Tapi bagaimana dengan pertempuran ini?”
Arya Wiraja : “ Sudahlah, yang penting kita melarikan diri dahulu kalau urusan
Jayakatwang, berpura-puralah tunduk padanya saja, Raden.”
Raden Wijaya : “ Apakah berhasil?”
Arya Wiraja : “ Tentu! Setelah itu mintalah daerah untuk tempat berdiam pada
Jayakatwang. Aku yakin, pasti berhasil.”
Raden Wijaya : “ Baiklah, aku akan mencoba.”
Keesokan harinya Raden Wijaya menghadap kepada Jayakatwang.
Raden Wijaya : “ Jayakatwang, aku menyarah diri padamu, aku mengaku takluk
kepadamu.”
Jayakatwang : “ Ha,,ha,,ha,,akhirnya kau takluk juga padaku…”
Raden Wijaya : “ Terserahlah kau bilang apa tentang aku… yang penting aku tunduk padamu…”
Jayakatwang : “ Hahahaha, baik-baik. Takluk juga kau ditanganku.”
Raden Wijaya : “ Iya, karena aku sudah takluk padamu boleh aku minta sesuatu
kepadamu.”
Jayakatwang : “ Minta apa? Kau boleh minta apa saja dariku.”
Raden Wijaya : “ Aku minta sebuah daerah yang akan kugunakan sebagai tempat
tinggal.”
Jayakatwang : “ Baiklah. Ambilah daerah Hutan tarik itu!”
Raden Wijaya : “ Baiklah, terima kasih atas kebaikanmu.”
Raden Wijayapun pergi kehutan tarik dimana ia akan menjadikan lahan tersebut sebagai tempat layak tinggal. Dibantu oleh sisa pasuka dari Madura. Karena ada tentara yang kehausan maka mencoba memakan buah maja dan ternyata pahit, akhirnya daerah tersebut dinamakan Majapahit.
Suatu hari Raden Wijaya menyerang kerajaan Singasari dengan bantuan tentara Mongol yang ingin balas dendam atas perilakau Raja Kertanegera.
Raden Wijaya :” Hai, Jayakatwang, habislah nasibmu saat ini!”
Jayakatwang : “ Apa?! Beginikah kau menunjukkan rasa terimakasihmu kepadaku?
Dengan bertempur?”
Raden Wijaya : “ Benar! Dan tamatlah riwayatmu Jayakatwang!”
Jayakatwang : “ WIJAYA!!!!!!Biadap kau!!!!”
Terjadilah perang antara Jayakatwang dan Raden Wijaya yang dimenangkan oleh Raden Wijaya. Dan menyerang PAsukan Mongol yang akhirnya meninggalkan Pulau Jawa. Kemudian berdirilah kerajaan Majapahit yang diperintah oleh Raden Wijaya.



No Nama Kerajaan Tahun
1. Majapahit 1293 M

Peninggalan
1. Prasasti Bulak
2. Kitab Sutasoma
3. Kitab Negarakertagama
4. Kitab Pararaton
5. Berita Cina
6. Kidung Harsawijaya dan Kidung Wijayakarma
7. Kidung Sundalaya
8. Candi Penataran
9. Candi Tegalwangi
10. Candi Tikus
11. Candi Jabung
12. Candi Brahu
13. Candi Bajang Batu
Corak : Hindu
Bidang pemerintahan : Kerajaan Majapahit dibangun oleh Raden Wijaya dan berkembang pesat ditangan Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada yang berhasil menaklukkan kerajaan Negara-negara tetangga. Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran saat dipegang oleh Wirakrama Wardhana.


1. ASPEK SOSIAL :
Pola tata masyarakat Majapahit dibedakan atas lapisan-lapisan masyarakat (strata) yang perbedaannya lebih bersifat statis. Walaupun di Majapahit terdapat empat kasta seperti di India, yang lebih dikenal dengan catur warna, tetapi hanya bersifat teoritis dalam literatur istana.1 Pola ini dibedakan atas empat golongan masyarakat, yaitu brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Namun terdapat pula golongan yang berada di luar lapisan ini, yaitu Candala, Mleccha, dan Tuccha, yang merupakan golongan terbawah dari lapisan masyarakat Majapahit.2
Brahmana (kaum pendeta) mempunyai kewajiban menjalankan enam dharma, yaitu mengajar, belajar, melakukan persajian untuk diri sendiri dan orang lain, membagi dan menerima derma (sedekah) untuk mencapai kesempurnaan hidup dan bersatu dengan Brahman (Tuhan).3 Mereka juga mempunyai pengaruh di dalam pemerintahan, yang berada pada bidang keagamaan dan dikepalai oleh dua orang pendeta tinggi, yaitu pendeta dari agama Siwa dan agama Buddha, yang disebut sebagai Saiwadharmadhyaksa dan Buddhadarmadyaksa. Saiwadyaksa mengepalai tempat suci (pahyangan) dan tempat pemukiman empu (kalagyan); Buddhadyaksamengepalai tempat sembahyang (kuti) dan bihara (wihara); manteri berhajimengepalai para ulama (karesyan) dan para pertapa (tapaswi). Semua rohaniawan menghambakan hidupnya kepada raja yang disebut sebagai wikuhaji.
Para rohaniawan biasanya tinggal di sekitar bangunan agama, yaitu mandala,dharma, sima, wihara, dsb. Mandala adalah nama komunitas agama di desa, yang ditempatkan di daerah yang terpencil di bukit yang berhutan, sedangkan Sima adalah daerah yang menjadi milik kaum agama dari berbagai sekte, tidak langsung di bawah kekuasaan pejabat istana manapun.
Kaum Ksatria merupakan keturunan dari pewaris tahta (raja) kerajaan terdahulu, yang mempunyai tugas memerintah tampuk pemerintahan. Keluarga raja dapat dikatakan merupakan keturunan dari kerajaan Singasari-Majapahit yang dapat dilihat dari silsilah keluarganya dan keluarga-keluarga kerabat raja tersebar ke seluruh pelosok negeri, karena mereka melakukan sistem poligami secara meluas yang disebut sebagai wargahaji atau sakaparek. Para bangsawan yang memerintah suatu kawasan permukiman di ruang lingkup kekuasaan kerajaan dapat dikatakan memiliki hubungan dengan keluarga raja terdahulu dan disebut sebagai parawangsya. Semua anggota keluarga raja masing-masing diberi nama atas gelar, umur, dan fungsi mereka di dalam masyarakat. Bila seseorang diangkat menjadi bangsawan, maka nama pengangkatan akan diberikan kepadanya. Pemberian nama pribadi dan nama gelar terhadap para putri dan putra raja didasarkan atas nama daerah kerajaan yang akan mereka kuasai sebagai wakil raja. Hak istimewa yang diterima oleh para bangsawan kerajaan bersumber pada penghasilan dari propinsi mereka dan terutama pada penghasilan wilayah yang menjadi hak mereka sendiri.
Waisya merupakan masyarakat yang menekuni bidang pertanian dan perdagangan. Mereka bekerja sebagai pedagang, peminjam uang, penggara sawah dan beternak. Kemudian kasta yang paling rendah dalam catur warna adalah kaumsudra yang mempunyai kewajiban untuk mengabdi kepada kasta yang lebih tinggi, terutama pada golongan brahmana.
Golongan terbawah yang tidak termasuk dalam catur warna dan sering disebut sebagai pancama (warna kelima) adalah kaum candala, mleccha, dan tuccha. Candalamerupakan anak dari perkawinan campuran antara laki-laki (golongan sudra) dengan wanita (dari ketiga golongan lainnya: brahmana, waisya, dan waisya), sehingga sang anak mempunyai status yang lebih rendah dari ayahnya. Mleccha adalah semua bangsa di luar Arya tanpa memandang bahasa dan warna kulit, yaitu para pedagang-pedagang asing (Cina, India, Champa, Siam, dll.) yang tidak menganut agama Hindu.Tuccha ialah golongan yang merugikan masyarakat, salah satu contohnya adalah para penjahat. Ketika mereka diketahui melakukan tatayi, maka raja dapat menjatuhi hukuman mati kepada pelakunya. Perbuatan tatayi adalah membakar rumah orang, meracuni sesama, mananung, mengamuk, merusak dan memfitnah kehormatan perempuan.4
Dari aspek kedudukan kaum wanita dalam masyarakat Majapahit, mereka mempunyai status yang lebih rendah dari para lelaki. Hal ini terlihat pada kewajiban mereka untuk melayani dan menyenangkan hati para suami mereka saja. Wanita tidak boleh ikut campur dalam urusan apapun, selain mengurusi dapur rumah tangga mereka. Dalam undang-undang Majapahit pun para wanita yang sudah menikah tidak boleh bercakap-cakap dengan lelaki lain, dan sebaliknya. Hal ini bertujuan untuk menghindari pergaulan bebas antara kaum pria dan wanita.
2. Aspek Ekonomi :
Majapahit merupakan negara agraris dan sekaligus negara perdagangan. Majapahit memiliki pejabat sendiri utk mengurusi pedagang dari India dan Tiongkok yg menetap di ibu kota kerajaan maupun berbagai tempat lain di wilayah Majapahit di Jawa.
Menurut catatan Wang Ta-yuan pedagang Tiongkok komoditas ekspor Jawa pada saat itu ialah lada garam kain dan burung kakak tua sedangkan komoditas impor adl mutiara emas perak sutra barang keramik dan barang dari besi. Mata uang dibuat dari campuran perak timah putih timah hitam dan tembaga. Selain itu catatan Odorico da Pordenone biarawan Katolik Roma dari Italia yg mengunjungi Jawa pada tahun 1321 menyebutkan bahwa istana raja Jawa penuh dgn perhiasan emas perak dan permata.
3. Aspek Budaya :
Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dgn perayaan besar keagamaan yg diselenggarakan tiap tahun. Agama Buddha Siwa dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha Siwa maupun Wisnu.
Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelum arsitek Majapahitlah yg paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dgn memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yg masih dapat ditemui sekarang adl Candi Tikus dan Candi Bajangratu di Trowulan Mojokerto.
4. Aspek politik:
Dalam rangka menguasai Pajajaran, maka Gajah Mada melakukan Politik perkawinan yang berakibat terjadinya peristiwa Babat tahun 1357.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal. Sehingga Majapahit mengalami kesulitan mencari penggantinya. Baru tiga tahun kemudian digantikan oleh Gajah Enggon. Meninggalnya Gajah Mada sangat berpengaruh terhadap pemerintahan Hayam Wuruk, sehingga pemerintahan Hayam Wuruk mengalami kemunduran. Hayam Wuruk meninggal tahun 1389. Selanjutnya tahta Majapahit diduduki oleh Wikramawardhana. Pada masa pemerintahan Wikramawardhana (tahun 1389 - 1429) kehidupan politik Majapahit diwarnai oleh Perang Paregreg atau perang saudara antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabumi.
Perang Paregreg terus berkelanjutan menyebabkan bintang Majapahit semakin pudar, sehingga banyak daerah-daeah kekuasaannya yang melepaskan diri.

Rabu, 02 Juni 2010

LEBIH BAIK SAHABATAN

Aku mendribel bola basket sampai kering dengan satu kali lompatan yang indah.
“Wow, tembakan yang jitu tuh!” Sahut Risia dibelakangku. Aku menoleh kebelakang dan tampak Risia dibelakang dan tersenyum manis kepadaku. Kubalas senyum manis itu dengan sebentuk senyum.
“Tumben baru datang biasanya udah mendribel beberapa bola basket ke ring.” Ucapku sambil meleparkan bola basket kepada Risia.
Risia menangkap nola basket itu “Iya,nih. Sorry, ya, Vi. Hari ini aku mau berangkat ke Surabaya, ayah dipindah tugaskan kesana.” Ujarnya lirih.
“Hah?! Maksud kamu, kamu mau pindah ke Surabaya, gitu?”
Risia mengangkat bahunya “ Kurasa begitu. Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, Vi. Kalo aku punya salah maafkan aku, ya?” Risia melemparkan bola basket itu kepadaku lagi dan berlalu pergi.
“Risia !!!” Panggilku. Risia membalikkan bada menghadapku” Aku tunggu kedatanganmu kembali disini!” Teriakku, Risia hanya menyunggingkan senyum manisnya yang akan kuingat selalu.

Lima tahun telah berlalu sejak Risia pamit pergi. Kini aku telah kuliah disalahsatu universitas dikotaku. Angan tentang kedatngan Risia masih membayangiku. Ingin rasanya bisa bermain basket lagi bersamanya dan melihatnya memamerkan senyum manisnya.
Hari ini aku pulang kuliah agak cepat karena dosenku sedang keluar kota. Aku menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dengan lantai dasar.
“Vian!!” Panggil seseorang. Aku sejenak berhenti melangkah dan menoleh kebelakang karena merasa namaku dipanggil sesorang dan ternyata orang itu adalah Randy, sahabatku.
“ Hai, bro!!. mau kemana nih?” Tanyanya.
“ Gak tau, deh. Rencanya sih mau ke mall cari buku buat bahan skripsi.” Paparku sambil melangkah menuri tangga bersama Randy.
“ Yah, rajinnye, nih nak!!” Ejek Randy.
“ Hmeb, yelah. Kamu mau gak lulus kuliah gara-gara nggak ngumpulin skripsi?”
“ Ya, enggak lah, Vi! Gini-gini aku pingin jadi anak yang berbakti bagi bangsa dan Negara.” Randy menjawab sambil menepuk-nepuk dadanya.
“ Gayamu, Ran,Ran! Kyak yang udah sukses aja!” Ledekku.
“ Hey, iya donk! Aku kan udah sukses lulus SMA! Wekkkk!!!” Randy menulurkan lidahnya, sejenak aku tertawa bersama Randy mendnegar lelucon dari Randy tadi. Nggak kerasa aku dan Randy udah nyampek parkiran kampus.
“ Eh, Ran kamu nggak ikut ke mall bareng aku?” Tanyaku.
“ Nggak, ah, Vi. Mending aku jalan-jalan bareng Sita.”
“ Ye, Sita aja yang dipikiri! Pikiri tuh, kuliahmu!” Omelku “ bener, nih, nggak mau ikut? Mumpung aku bawa mobil, nih.”
“ Nggak, lah, Vi. Makasih banget ,deh! Sorry, ya.”
“ Iya, deh! ya, udah aku duluan ya!” Salamku.
“ Yok! Entar kalo nyasar miscall gue ya!” Pesan Randy.
Aku melajukan mobil kijangku keluar dari halaman kampus. Menuju ke jalan raya. Selama dimobil aku menyetel lagunya Vierra Seandainya yang pas banget buat aku dengerin sambil mengenang perpisahku dengan Risia. Tak terasa mobil sedanku telah sampek diparkiran mall. Setelah memarkir mobilku aku mengunci mobilku. Tiba-tiba ada seorang gadis lewat yang sepertinya kukenal baik, gadis itu tak lain adalah Risia!
“ Risia!!” Teriakku. Sang gadis yang kupanggil itupun menoleh. Ternyata benar itu adalah Risia yang hendak mengambil mobilnya yang tak jauh dari mobilku.
“ Vian?!” Serunya. Aku segera menghampiri Risia.
“ Hai, apa kabar lama tak jumpa!” Ujarku. Risia tersenyum, hmen, senyum yang selama ini kurindukan.
“ Baik, kamu sendiri? Wah, kelihatannya kamu tambah tinggi ya Vi!” Seru Risia.
“ Hehehehe,,,,,ya gitu,deh. aku baik kok. Kamu ngapain disini?”
“ Aku habis belanja buat makan entar malem,kamu juga ngapain disini?”
“ Mau nyari bahan buat skripsi, oh ya kamu kok udah balik dari Surabaya?”
Risia tersenyum “ Iya, jenguk tante yang lagi sakit sama mau kuliah disini kangen sama kampung halaman, hehehehehe,,,,,oh ya Vi aku pulang dulu ya udah ditunggu tante dari tadi, nih.”
“ Owh, ya deh. Oh, ya ris boleh minta nomor hpmu nggak?” tanyaku takut-takut.
“ Boleh aja catet ya!” Risia lalu mengeluarkan handphonenya. Setelah bertukar nomor handphone Risia lalu pergi bersama mobilnya. Ah, senang rasanya bisa bertemu lagi dengannya.

Setelah kejadin sore itu aku rajin sms’an dengan Risia. Ia ternyata kuliah di universitas kedokteran dikotaku. Dia memang sudah lama ingin menjadi dokter. Risia juga sering bermain basket lagi bersamaku. Entah mengapa sejak kehadiran Risia hatiku berdebar-debar dibuatnya. Karena telah lama memendam rasa ini rencananya aku akan mengungkapkannya.
Suatu petang dicafe yang terletak dalam sebuah mall, ditemani secangkir cappuccino dan piring kecil berisi dua potong brownies, aku membaca buku panduan cara berternak burung puyuh. Aku percaya, jika bisa disiasati dan dinikmati, menugggu tidaklah membosankan.
Tiga bulan yang lalu di basement mall ini, aku bertemu risia. Dia melintas ketika kau baru selesai memarkir mobil. Antara ragu dan rindu, kuseru namanya. Dia menunda langkah dan menengok. Satu kebetulan yang indah. Sedannnya parkir tak jauh dari kijangku. Setelah basa-basi sebentar dan saling member nomor ponsel, dia pamit pulang. Ada yang mekar diam-diam dalam hati saat melepasnya pergi.
Kejadian itu akan kuingat selalu. Cinta pertamaku adalah Risia. Dan sore ini aku akan menyatakannya.
“ Hai, Vi! Serius amat bacanya.” Sapa Risia yang membuat perhatianku beralih padanya.
“ Hai, juga Ris, duduklah.” Pintaku. Risiapun duduk didepanku.
“ Ada apa kamu memintaku kemari, Vi?” Tanya Risia.
“ Hmn, ada yang perlu aku bicarakan.” Kataku ragu. “ Dan kurasa penting.”
“ Oh,ya?Apa?langsung aja,deh bilangnnya gak usah pake basa-basi.” Kata Risia antusias.
“ Aku suka kamu, Ris.” Kataku.
“ Hah?! Kamu suka aku?” Tanya Risia, kaget.
“ Iya, aku suka kamu dari dulu.” Kataku. Kulihat Risia tersenyum, Lho?
“ Aku juga, suka sama kamu, Vi, tapi sebagai sahabat. Kamu adalah sahabat yang paling aku sayangi, tapi maaf aku nggak bisa lebih dari itu?” Ungkapnya.
“ Kenapa?” Sebuah pertenyaan aneh itu keluar dari mulutku.
“ Aku juga nggak tahu kenapa tapi mungkin itu udah tadir dari Tuhan.” Jelasnya “ Lagian, sahabat lebih nyaman daripada pacaran, aku masih sibuk mengurus kuliahku, kamu juga, toh sahabat ataupun pacar tak membedakan status kita.” Risia tersenyum. Aku hanya membalas senyumannya.
“ Hmen, kurasa kamu ada benarnya, Ris. Sebaiknya kita berteman saja, aku nggak mau ngerusak persahabatan lama kita ini.”
“ Siiip!!!” Risia mengcungkan jempol padaku.
Mulai saat ini sampai kapanpun Risia adalah sahabatku tersayang, persahabatan kami nggak boleh hancur gara-gara rasa suka ini. Toh, pacar ataupun bukan Risia tetap selalu ada disaat aku duka maupun suka, hingga akhir hayat kami.